Showing posts with label Kopasan. Show all posts
Showing posts with label Kopasan. Show all posts

Wednesday, December 5, 2012

Rel Kereta Amblas (dan Rumornya)


Jadi korban rel kereta ambles di Cilebut?kalo gitu nasib kita sama



Lebih kurang dua mingguan sejak diberhentikannya perjalanan kereta dari dan menuju Bogor, banyak yang mencari alternatif menuju tempat aktivitasnya masing-masing. Ada yang naik Bis/kendaraan pribadi dengan rumor yang ternyata sampe kantor nya bisa 1-2 jam lebih lama daripada kalo naik kereta. Ada juga yang nebeng di rumah sodara/di kosan bapak, just like me. Tapi ada juga yang saking gak bisa pindah ke lain hatinya masih naik kereta. Yup..kereta yang berangkat dari Stasiun Bojong Gede (Ane salut berat sama yang masih keukeuh naik kereta dari Stasiun Bojong Gede, ane ngalamin sendiri dan itu bener-bener bikin ilfeel. Salute for you all guys..).




Wednesday, December 15, 2010

MAKANNYA JANGAN BEGADANG!!

hei pals!
waktu gw lagi buka2 twitter..kebetulan temen gw ada yang retweet thread dari kaskus dengan judul "Bahaya Tidur Terlalu Malam" yang sukses bikin gw penasaran karena profesi gw sebagai orang2 yang selalu tidur diatas jam hidup manusia. pas baca..hrrr rada ngeri juga sih. mungkin bisa bermanfaat kalo gw share ke temen2 terutama yang sama2 ngalong kaya gw..cekidot!


......ini gw cut soalnya kepanjangan jadi langsung to the point aje...


Penyebab utama kerusakan hati adalah :

1. Tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang adalah penyebab utama.
2. Tidak buang air di pagi hari.
3. Pola makan yang terlalu berlebihan.
4. Tidak makan pagi.
5. Terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan.
6. Terlalu banyak mengkonsumsi bahan pengawet, zat tambahan, zat pewarna, pemanis buatan.
7. Minyak goreng yang tidak sehat.
Sedapat mungkin kurangi penggunaan minyak goreng saat menggoreng makanan, hal ini juga berlaku meski menggunakan minyak goreng terbaik sekalipun seperti olive oil. Jangan mengkomsumsi makanan yang digoreng bila kita dalam kondisi penat, kecuali dalam kondisi tubuh yang fit.
8. Mengkonsumsi masakan mentah (sangat matang) juga menambah beban hati. Sayur mayur dimakan mentah atau dimasak matang 3 – 5 bagian. Sayur yang digoreng harus dimakan habis saat itu juga, jangan disimpan.

Kita harus melakukan pencegahan dengan tanpa mengeluarkan biaya tambahan. Cukup atur gaya hidup dan pola makanan sehari-hari. Perawatan dari pola makan dan kondisi waktu sangat diperlukan agar tubuh kita dapat melakukan penyerapan dan pembuangan zat-zat yang tidak berguna sesuai dengan jadwalnya.

Sebab:

Malam hari pk 9 – 11 : adalah pembuangan zat-zat tidak berguna/beracun (de-toxin) di bagian sistem antibodi (kelenjar getah bening). Selama durasi waktu ini seharusnya dilalui dengan suasana tenang atau mendengarkan musik. Bila saat itu seorang ibu rumah tangga masih dalam kondisi yang
tidak santai seperti misalnya mencuci piring atau mengawasi anak belajar, hal ini dapat berdampak negatif bagi kesehatan.

Malam hari pk 11 – dini hari pk 1 : saat proses de-toxin di bagian hati,harus berlangsung dalam kondisi tidur pulas.

Dini hari pk 1 – 3 : proses de-toxin di bagian empedu, juga berlangsung dalam kondisi tidur.

Dini hari pk 3 – 5 : de-toxin di bagian paru-paru. Sebab itu akan terjadi batuk yang hebat bagi penderita batuk selama durasi waktu ini. Karena proses pembersihan (de-toxin) telah mencapai saluran pernafasan, maka tak perlu minum obat batuk agar supaya tidak merintangi proses pembuangan kotoran.

Pagi pk 5 -7 : de-toxin di bagian usus besar, harus buang air di kamar kecil.

Pagi pk 7 – 9 : waktu penyerapan gizi makanan bagi usus kecil, harus makan pagi. Bagi orang yang sakit sebaiknya makan lebih pagi yaitu sebelum pk 6:30. Makan pagi sebelum pk 7:30 sangat baik bagi mereka yang ingin menjaga kesehatannya. Bagi mereka yang tidak makan pagi harap merubah kebiasaannya ini, bahkan masih lebih baik terlambat makan pagi hingga pk 9 -10 daripada tidak makan sama sekali.

Tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang akan mengacaukan proses pembuangan zat-zat tidak berguna. Selain itu, dari tengah malam hingga pukul 4 dini hari adalah waktu bagi sumsum tulang belakang untuk memproduksi darah. Sebab itulah, tidurlah yang nyenyak dan jangan bergadang.




jadi..saya mendeklarasikan mulai hari ini,,TOBAT GAK BEGADANG LAGI!!(insyaAlloh)


nyumber dari: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=6276906

Sunday, December 5, 2010

Yuk, Tes Pembalutmu!



Kaum hawa yang menginjak remaja pasti tak bisa mengelak datangnya siklus menstruasi setiap bulannya. Dengan fakta seperti itu, pembalut menjadi produk yang tak bisa dilepaskan dari perempuan.

Tak mengherankan juga jika pembalut termasuk salah satu barang yang terbesar diproduksi di dunia. Nah, dari sekian banyak pilihan produk pembalut di pasaran, tentu tidak semua berkualitas baik. Lalu, bagaimana cara memilih pembalut yang baik?

Dr. H. Abidinsyah Siregar, DHSM, M.Kes, pengamat kesehatan perilaku dari Kementrian Kesehatan RI mengemukakan bahwa pembalut bisa menjadi dilema bagi perempuan. "Tingkat ekonomi seseorang bisa menentukan pilihan pembalut yang digunakan. Dari kalangan yang hanya membutuhkan pembalut saja, sampai yang ingin menggunakan lebih dari sekedar pembalut, misalnya pembalut yang aman, dan sehat," tutur Abidin saat peluncuran buku Panduan Kesehatan Keluarga di FX, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (1/12).

Hal yang tidak bisa dipungkiri, harga pembalut menentukan kualitas produk itu sendiri. "Semakin murah, semakin banyak bahan buatan atau sintetis dibanding aslinya. Tapi bukan berarti mahal harganya, pembalut itu jaminan berkualitas," tegas dokter kelahiran Banda Aceh ini.

Menurut Abidin, cara paling bijak menentukan pembalut yang baik adalah saat membeli. "Prinsip membeli itu kan melihat daftar bahan bakunya di kemasan produk," kata Abidin. Menurut penelitian, pembalut mengandung dioksin bisa memicu kanker serviks atau kanker leher rahim. Meski belum ada data akurat mengenai itu, sebaiknya para perempuan berhati-hati.

Ada tes simpel yang bisa dilakukan untuk mengetahui apakah pembalut itu mengandung dioksin atau tidak. Caranya lapisan dalam pembalut (seperti kapas) dibuka kemudian dimasukan dalam air. Kalau ternyata hancur dalam air dan airnya keruh berarti berdioksin. Sebaliknya, jika tidak hancur, pembalut itu aman dipakai.
Isna

"Manis" Di Rumah, "Liar" Di Luar



T ak jarang kita terbengong-bengong menyaksikan si kecil yang begitu manis di rumah, lantas seolah lepas kendali ketika berada di luar. Atau sebaliknya, yang "pemberani" di rumah, ternyata langsung mengkeret saat diajak ke luar.
Pasalnya, anak usia 1-3 tahun masih lebih banyak tergantung pada sosok ibu. Boleh dibilang, tokoh ibulah yang jadi penentu sehingga ia hanya mau dan bisa dekat dengan orang yang sudah familiar saja. "Makanya, saat keluar dari lingkungan yang telah dikenalnya, ia cenderung menunjukkan sikap bertolak belakang dengan kebiasaannya. Apalagi jika situasi yang ditemuinya begitu asing dan membuatnya takut," tutur Mien Sumartono, S.Psi.
Namun begitu, perbedaan sikapnya tak akan kelewat mencolok, karena anak pada dasarnya tak pernah menunjukkan perubahan sikap kelewat ekstrim. "Jarang sekali, lo, anak yang di rumah kelewat pemalu lalu di luar jadi ekstra pemberani. Seringnya justru, di luar lebih pemalu lagi." Tapi jika di rumah berani dan di luar pemalu, "mungkin orang tua kurang memberi kesempatan bersosialisasi atau overprotectif ," tandas Mien, sapaan akrab psikolog dari DIA/YKAI Jakarta ini.
BUKAN MUNAFIK
Jikapun sikapnya betul-betul bisa dibedakan ketika ia berada di rumah dan di luar, maka harus dilihat lagi sejauh mana perbedaannya dan kapan perubahan sikap itu terjadi, serta dalam situasi seperti apa. Soalnya, bisa jadi perubahan sikap itu cuma persepsi orang tua yang menganggap remeh kondisi anak atau malah kelewat mencemaskan. Terlebih bila anak biasanya pemberani dan relatif mampu menyesuaikan diri, lalu mendadak jadi cengeng dan sensitif, "orang tua seharusnya mengamati kondisi anak, apakah sedang kurang sehat atau gelisah karena berbagai sebab." Tak jarang, sikap otoriter orang tua membuat anak jadi lepas kendali kala di luar, karena ia "takut" akan mendapatkan hukuman kalau melakukan sesuatu di rumah. Bisa pula karena orang tuanya sibuk hingga ia merasa tak cukup diperhatikan.
Nah, sebagai kompensasinya, di luar pengetahuan orang tua, ia justru akan bersikap sebaliknya. "Jadi, ia sebenarnya tengah berusaha minta perhatian dan kehangatan yang tak diperolehnya dengan porsi cukup," tandas Mien. Harus pula diwaspadai ada gangguan emosional yang mesti dicari penyebabnya bila perilakunya sangat ekstrim. Misal, di depan ibu manis sekali namun di belakangnya luar biasa menjengkelkan. "Jika orang tua tanggap, cepat meng-handle, dan memang bisa mengatasinya, berarti tak ada masalah, karena anak usia ini sedang dalam proses belajar dan mencari bentuk."
Tapi bila memang sudah sampai pada taraf keterlaluan dan tak bisa ditangani, maka perlu bantuan ahli. Yang jelas, perubahan sikap ini tak bisa disamakan dengan sikap munafik pada orang dewasa, karena anak usia ini belum memiliki kemampuan memanipulasi dalam bentuk apapun. "Mereka masih polos sama sekali, kok, belum mengenal segala bentuk kepura-puraan; masih pure  pengaruh rumah, dunia luar belum banyak mengotori," ujar Mien.
Jikapun kemampuan memanipulasi semacam itu sempat muncul, tentu tak bisa lepas dari sikap atau kebiasaan orang tua di rumah. Jadi, orang tua harus introspeksi diri, apa saja yang sudah diperbuat hingga dicontoh anak. Jangan pula menganggap anak bersikap manis di rumah semata-mata agar tak mendapat hukuman. "Anak usia ini sama sekali belum mengenal konsep seburuk itu. Seluruh perilakunya masih sangat tergantung oleh kebutuhan akan rasa aman, terutama dari ibu. Jika ia merasa aman meski nggak ada ibunya, ya, nggak jadi masalah." Itu sebabnya, anak yang kelewat dilindungi biasanya lebih sulit jika diajak keluar dari "sangkar". Mereka umumnya tak bisa mandiri karena tak tahu harus berbuat apa bila tak ada yang melindungi.
KEBEBASAN BERSIKAP
Tapi sebenarnya, ujar Mien, perbedaan sikap ini tak akan kelewat mencolok bila anak sejak awal dibiasakan bebas bersikap. Selain, "orang tua pun rajin membawanya keluar untuk bertemu dan bergaul dengan banyak orang." Dengan begitu, ia jadi punya rasa percaya diri dan keberaniannya berada di lingkungan "asing" pun akan lebih terasah, sehingga ia mampu mengatasi keterasingan dan rasa tak aman saat berjumpa dengan orang-orang yang kurang familiar. Itulah mengapa, para ahli selalu menekankan agar orang tua tak banyak melarang anak sepanjang apa yang dilakukannya tak mengundang bahaya.
"Anak harus diberi kesempatan untuk terlibat penuh dalam proses sosialisasinya dan mengenal dunia luar." Jangan lupa, usia ini merupakan masa eksplorasi karena rasa ingin tahunya sangat besar. Jadi, "biarkan ia mencoba mengatasi sendiri masalah yang dihadapinya. Kalau tak bisa, barulah orang tua turun tangan. Itu pun sekadar membantu mencarikan jalan keluar." Kewajiban orang tua hanya sekadar menjaga dan mengarahkan. Hal lain yang harus jadi perhatian, anak usia ini perkembangannya masih didominasi oleh perkembangan bahasa, keberanian berbicara, dan kemampuan bernyanyi. "Anak yang sudah lancar bicara biasanya memiliki kemampuan sosialisasi yang bagus, karena kemampuan bicara memberi manfaat saat anak menjalani proses sosialisasi," terang lulusan Fakultas Psikologi UNISBA (Universitas Islam Bandung) ini.
Anak pun jadi terpacu perkembangan kemandiriannya, sehingga ia tumbuh menjadi anak yang lebih mandiri. Bahwa ada anak yang pemalu karena adaptasinya mungkin lambat, tentu harus diakui karena kepribadian seperti itu memang ada, bukan suatu kelainan perkembangan. Menghadapi anak seperti ini, yang diperlukan adalah dukungan dan perhatian orang tua agar anak tak sampai minder. Jangan malah mencerca, "Eh, kok, nempel terus, sih, sama Bunda? Main, dong, sama temanmu. Jangan malu-maluin gitu, ah!" Ia justru makin mengkeret dan sulit berkembang. "Ia akan mencap dirinya sendiri bahwa ia tak seperti yang diharapkan ibunya, bodoh, dan sebagainya seperti yang dibilang ibunya." Kalau sudah begitu, tak ada lagi yang bisa disalahkan kecuali ibu. Pasalnya, tutur Mien, pada masa ini memang ibulah yang lebih berperan penting dalam pendidikan anak di rumah. Jadi, jangan marah, ya, Bu.  
KOK, DI "SEKOLAH" BISA "MANIS", YA?
 Berperilaku manis untuk jangka waktu cukup lama seperti saat berada di Kelompok Bermain, merupakan suatu perjuangan tersendiri buat anak. Apalagi sampai dijadikan teladan bagi teman-temannya. Tak heran bila anak akan merasa aman dan "terbebas" dari kewajiban bersikap manis setibanya di rumah. Toh, Anda tak perlu cemas karena kondisi ini biasanya bukan merupakan cerminan dari ketakmampuan Anda dalam mengendalikan si kecil. Bukan pula merupakan gambaran rendahnya kontrol diri anak. Umumnya lebih merupakan kondisi peralihan yang dirasa cukup sulit buat anak, yakni perubahan tempat dan situasi dari "sekolah" ke rumah.
Situasi berstruktur di "sekolah" akan menuntut anak untuk memusatkan dan menyalurkan energinya secara positif. Sementara kembalinya anak pada situasi yang tak terlalu berstruktur di rumah dapat membuatnya "tak terkendali". Alasan lain, suasana rumah yang relatif lebih sepi dibanding "sekolah" yang ramai dan penuh kegiatan, mungkin agak mengejutkannya. Penyebab lain, umumnya anak memang akan merasa lebih aman untuk bertingkah di rumah karena ia merasa yakin dirinya akan tetap dicintai oleh orang-orang di rumah terlepas dari aapapun yang dilakukannya. Sementara di "sekolah", ia tak memperoleh kepastian akan rasa aman tersebut.
Nah, Anda seharusnya merasa "tertantang" untuk melihat situasi semacam ini secara seimbang, yakni ketika si "anak manis" sibuk memanjat atau mencoreti dinding ruang keluarga. Anjuran berikut bisa Anda coba untuk "menjinakkan" si kecil yang sangat energik sepulang sekolah.
* Tinggallah sebentar di "sekolah". Ketika Anda menjemputnya, jangan segera menarik tangannya lalu bergegas pulang. Sebaiknya minta ia menunjukkan apa yang telah diperbuatnya pada hari itu. Luangkan waktu untuk mengagumi lukisan jarinya, puzzle atau kolase yang berhasil diselelesaikannya. Bila guru tak keberatan anak tinggal lebih lama di kelas, ajak ia duduk kembali di bangkunya atau di sudut kelas lalu bacakan cerita singkat untuknya. Tindakan ini akan menjembatani jarak antara suasana "sekolah" dan rumah sekaligus memperlancar peralihan tersebut. Dalam perjalanan pulang, bicarakan juga tentang rencana Anda untuk sisa hari itu. Bila yang menjemputnya bukan Anda, mintalah si penjemput untuk melakukan rutinitas yang sama.
* Bawalah makanan kecil ketika menjemputnya.  Tak jarang rasa lapar menimbulkan kerewelan pada anak. Jika sejak berangkat ia hanya sempat sarapan sekeping biskuit atau beberapa sendok nasi goreng, mungkin makanan kecil mengandung banyak protein dan padat karbohidrat dapat menenangkannya. Dengan memberinya makanan kecil selama perjalanan pulang, manfaatnya akan langsung terasa begitu ia mencapai ambang pintu rumah.
* Pertimbangkan untuk mampir ke tempat yang menyenangkan dalam perjalanan pulang. Berhenti sebentar di taman bermain, misal, agar ia dapat melepaskan energinya yang tertahan selama berada di "sekolah". Cara ini akan membantunya mengurangi kebutuhan untuk melepaskan energinya di rumah.
* Ciptakan situasi berstruktur ketika tiba di rumah dengan menyediakan kegiatan seperti di "sekolah". Ini akan membantunya kembali memasuki kehidupan di rumah. Jadi, sebelum Anda menyiapkan makan siang untuknya, cobalah duduk bersamanya dengan sebuah buku, kaset lagu-lagu kesukaannya, mainan kesayangannya, atau segala sesuatu yang memungkinkan Anda berdua menghabiskan waktu secara khusus.
LANTARAN ADA KESEPAKATAN
 Tak jarang, anak yang biasanya "nakal" di rumah namun manis dan penurut kala di luar lantaran sebelumnya sudah ada kesepakatan antara anak dengan ibunya untuk tak "nakal" agar boleh ikut pergi. Ada, lo, anak yang patuh sepenuhnya dengan kesepakatan tersebut karena ia mengerti betul kalau ia berbuat yang sesuai dengan keinginan ibunya, ia akan mendapat sesuatu yang menyenangkan. Nah, Anda pun bisa menerapkan kesepakatan ini pada si kecil. Tentu dengan kata-kata sederhana sesuai daya tangkap anak. Misal, "Adek boleh ikut Bunda tapi Adek enggak boleh nangis dan minta dibelikan ini-itu."
Sampai di tempat tujuan, bisa jadi ia akan "membujuk" atau memanfaatkan Anda untuk menuruti keinginannya, "Boleh, dong, Bunda, Adek beli mobil-mobilan itu." Asalkan Anda konsisten dengan kesepakatan yang telah dibuat, si kecil akan belajar bahwa ia tak bisa seenaknya melanggar kesepakatan bersama. "Anak yang dibiasakan dengan cara seperti itu, biasanya akan tumbuh menjadi anak yang patuh," kata Mien.  
Sikap lain yang banyak dicontoh anak dari ibunya adalah sabar, karena orang tua yang tak sabar umumnya cenderung memunculkan ketaksabaran dalam diri anak. "Begitu pula anak rewel yang keinginannya selalu harus dipenuhi saat itu juga, biasanya juga lantaran ibu atau ayahnya bersikap seperti itu." Secara tak langsung, sikap anak merupakan gambaran orang tuanya. Bukankah orang tua adalah model bagi anak? Nah, bagaimana orang tua bersikap sehari-hari, itulah yang dilihat anak dan dijadikan pegangan atau panutan baginya.
 Julie/Th. Puspayanti

Monday, October 25, 2010

partai politik berwawasan lingkungan?

Pembangunan berwawasan lingkungan dalam hal ini termasuk juga pengelolaan sumber daya alam yang baik, berkorelasi dengan terciptanya pembangunan berkelanjutan. Pembangunan berwawasan lingkungan juga tida lepas dengan apa yang disebut sebagai Good environmental governance. Ini merupakan konsep  tata kelola yang didasarkan pada lingkungan hidup dimana sumber daya alam dikelola, diatur dan diawasi oleh institusi-institusi negara yang diakui legitimasinya oleh rakyat, kompeten, secara terbuka, demokratis dan dapat dipertanggungjawabkan kepada rakyat. Untuk dapat mewujudkan good environmental governance ini di Indonesia diperlukan komitmen yang besar dari partai politik dan elitnya yang terpilih menduduki kursi pemerintahan untuk berpikir dari sisi keuntungan bagi lingkungan hidup bukan saja dari keuntungan ekonomi semata. Terdapat beberapa hal yang menjadi parameter terciptanya good environmental governance yaitu:
1.      Desentralisasi dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup dengan mengikuti prinsip dan pendekatan ekosistem, bukan administratif.
2.      Kontrol sosial masyarakat dengan melalui pengembangan transparansi proses pengambilan keputusan dan peran serta masyarakat .
3.      Pendekatan utuh menyeluruh atau komprehensif dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup.
4.      Keseimbangan antara eksploitasi dengan konservasi dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup sehingga tetap terjaga kelestarian dan kualitasnya secara baik.
5.      Rasa keadilan bagi rakyat dalam pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan hidup.[1]
        Sejauh ini pihak yang memperhatikan masalah lingkungan masih terbatas pada  LSM lingkungan hidup baik nasional maupun internasional dan juga akademisi yang aktif dalam mengkritisi kebijakan pengelolaan lingkungan yang dilakukan oleh pemerintah. Mereka adalah bagian dari masyarakat yang merupakan stakeholders pro lingkungan hidup. Mereka pun turut mempengaruhi pembuatan kebijakan pemerintah.
        Dilain sisi, pihak swasta, dalam hal ini pengusaha atau investor, memberikan peran yang cukup signifikan dalam mempengaruhi kebijakan . Pihak swasta inilah menanamkan investasi di Indonesia untuk melakukan kegiatan ekonomi yang notabennya sering berpotensi menimbulkan eksploitasi sumberdaya alam tanpa diikuti upaya untuk pelestariannya.
        Kebijakan merupakan instrumen pemerintah yang ampuh digunakan untuk menyelamatkan lingkungan hidup. Pemerintah sebenarnya sudah berupaya untuk membuat kebijakan yang pro lingkungan hidup namun terkadang niat baik ini tersandung kepentingan swasta yang menganggap kebijakan seperti itu justru mengekang langkah swasta sebagai investor dan pelaku usaha dalam melakukan kegiatan ekonomi di Indonesia. Pemerintah tentu akan lebih mementingkan kepentingan swasta karena lebih menguntungkan secara ekonomis sehingga pemerintah yang tadinya pro lingkungan bisa berubah menjadi pro kepentingan swasta. Hal ini dapat dilihat dari kasus disahkannya kebijakan penambangan di kawasan hutan lindung beberapa waktu lalu.
Ketidak pedulian banyak pihak di Negara ini terhadap pentingnya isu lingkungan hidup antara lain disebabkan :
1.      persoalan lingkungan hidup belum menjadi isu penting dalam masyarakat kita.Isu-isu politik,ekonomi dan social masih menjadi isu-isu yang dianggap bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.
2.      bencana yang terjadi yang disebabkan oleh kerusakan lingkungan hidupselalu dianggap sebagai bencana alam.Sehingga sikap pasrah yang lebih muncul dengan melupakan penyebab dasar dari bencana.
3.      produk hukum dan politik yang kurang memihak dalam perlindungan terhadap lingkungan hidup dan masyarakat korban kerusakan lingkungan,juga menjadi hambatan untuk meminta pertanggungjawaban ekologi kepada pemerintah. Karena seringkali segala kebijakan yang merusak lingkungan akan terlindungi dengan legitimasi untuk meningkatkan perekonomian negara dan menarik investor asing.
4.      belum adanya wacana pertanggungjawaban ekologi oleh pemerintah kepada publik. Pertanggungjawaban yang ada selama ini hanyalah pertanggungjawaban politik dan keuangan. [2]

Walaupun sedikit, pemilu tahun 1999 dan 2004 telah memunculkan beberapa partai yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan hidup di Indonesia. Berdasar penelitian WALHI dalam pemilu 1999 lalu dari 48 partai politik peserta pemilu, menurut hasil kajian yang dilakukan oleh WALHI hanya 4 partai politik yang mencanangkan program lingkungan sebagai prioritas utama dalam program yang ditawarkan ke publik. Keempat partai Politik tersebut adalah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Partai Amanat Nasioanl (PAN), Partai Keadilan (PK), danPartai Kebangkitan Bangsa (PKB).[3] Sedangkan pada tahun 2004 menurut yayasan Komunal dan INFORM yang merupakan LSM lingkungan hidup, terdapat sepuluh parpol yang memiliki kepedulian pada lingkungan hidup. Kesepuluh parpol tersebut adalah PKS, PPIB, Golkar, PAN, PNBK, PPP, PKB, PBB, Partai Demokrat dan Partai Patriot Pancasila.[4] 

Hanya sedikit partai politik yang dinyatakan peduli pada kasus lingkungan hidup di Indonesia. Ini membuktikan bahwa isu lingkungan bukanlah isu yang bisa “menjual” mereka pada masyarakat sehingga isu yang sangat penting ini justru diabaikan oleh sejumlah partai. Padahal, hampir sepanjang tahun, masyarakat selalu dilanda bermacam-macam bencana yang sebagian besar disebabkan oleh kerusakan lingkungan akibat ulah manusia. Seperti tingkat illegal logging yang semakin tinggi akibat pengelolaan hutan dan rencana tata ruang yang tidak dipandang dari sudut ekologis telah menyebabkan banjir dan tanah longsor seperti yang terjadi di Ciwidey, Bandung baru-baru ini. Di daerah lain terjadi kekeringan dan krisis air yang melanda sebagian Pulau Jawa. Lebih mirisnya kurangnya pasokan air bersih tersebut tidak menjadi pertimbangan DPR




[1] Diunduh dari www.bappenas.go.id pada 1 April 2010 pukul 21.10
[2] Diunduh dari groups.yahoo.com pada 1 April 2010 pukul 20.01
[3] Diunduh dari groups.yahoo.com pada 1 April 2010 pukul 20.01
[4] Diunduh dari www.sinarharapan.co.id pada 1 April 2010 pukul 21.02

Thursday, January 14, 2010

ini kebetulan dari sebuah kebatilan..


foto wajah yang terpampang diatas adalah pakde Abraham Lincoln (kiri) dan paklek John F. Kennedy (kanan). foto keduanya saya sandingkan karena sama-sama mantan presiden Amerika serikat. namun tentu tidak hanya karena alasan itu saja foto keduanya saya sandingkan..you know?there's something weird about their life..check this out!!

Abraham Lincoln
was elected to Congress in 1846.
John F. Kennedy was elected to Congress in 1946.

Abraham Lincoln was elected President in 1860.
John F. Kennedy was elected President in 1960.

Both were particularly concerned with civil rights.
Both wives lost their children while living in the White House.

Both Presidents were shot on a Friday.
Both Presidents were shot in the head

Now it gets really weird.

Lincoln 's secretary was named Kennedy.
Kennedy's Secretary was named Lincoln .

Both were assassinated by Southerners.
Both were succeeded by Southerners named Johnson.

Andrew Johnson, who succeeded Lincoln , was born in 1808.
Lyndon Johnson, who succeeded Kennedy, was born in 1908.

John Wilkes Booth, who assassinated Lincoln , was born in 1839.
Lee Harvey Oswald, who assassinated Kennedy, was born in 1939.

Both assassins were known by their three names.
Both names are composed of fifteen letters.

Now hang on to your seat.

Lincoln was shot at the theater named 'Ford.'
Kennedy was shot in a car called ' Lincoln ' made by 'Ford.'

Lincoln was shot in a theater and his assassin ran and hid in a warehouse.
Kennedy was shot from a warehouse and his assassin ran and hid in a theater.

Booth and Oswald were assassinated before their trials.

And here's the kicker...

A week before Lincoln was shot, he was in Monroe , Maryland
A week before Kennedy was shot, he was with Marilyn Monroe.

believe it or not?it's your choice